Showing posts with label Wisata Klaten. Show all posts
Showing posts with label Wisata Klaten. Show all posts

Saturday, March 7, 2015

Candi Plaosan adalah Candi Kembar 

Candi Plaosan merupakan bangunan yang berupa dua candi kembar karena ukuran dan bentuk candi tersebut sama. Candi yang berdiri di sebelah selatan bernama Candi Plaosan Kidul, sedangan candi yang berdiri di sebelah utara bernama Candi Plaosan Lor. Candi kembar tersebut berukuran panjang 15 meter , lebar 10 meter dan tinggi 15 meter. Yang membedakan antara kedua candi tersebut adalah relief dan ornamen yang memiliki bentuk dan corak tersendiri.
Candi Plaosan merupakan sebutan untuk kompleks percandian yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang, atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Mataram Kuno.


Konon ceritanya Candi Plaosan memiliki kekuatan cita pasangan dari Rakai Pikatan dengan Pramudya Wardani sehingga dapat mendatangkan berkah asmara bagi siapa saja yang mengunjungi candi ini. Konon candi Plaosan ini mampu mendatangkan berkah bagi pasangan yang belum mendapatlkan keturunan, dengan memohon di tempat ini maka harapan dari pasangan tersebut akhirnya berhasil mendapatkan keturunan seperti yang diharapkan. Waktu permohonan sebaiknya dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon. Ritual harus dilakukan sebanyak tiga kali, baik itu tiga kali berturut-turut ataupun tiga kali dengan hari yang berlainan, yang penting ritualnya genap tiga kali (bagi yang percaya).


Candi Plaosan, sebelah kanan disebut candi wanita, sebelah kirinya candi pria.


Lokasi Candi Ploasan mudah di jangkau, ini bila anda datang dari Yogyakarta sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi. Dengan mengikuti Jalan Solo sampai di Kecamatan Prambanan, anda akan menemukan lampu merah yang ketiga ( sebelah timur Kantor Pos /kalau ke selatan menuju stasiun Prambanan ) selanjutnya belok kekiri menuju Manisrenggo Klaten ). Selanjutnya ikuti jalan tersebut sampai perempatan (Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah ) berada disisi kiri /barat jalan. Selanjutnya arahkan pandangan ke arah Timur atau sebelah kanan dimana Candi Plaosan berdiri megah menanti kedatangan anda.

Untuk memasuki kawasan candi ini hanya dimintai biaya seikhlasnya dan mengisi buku tamu, biaya parkir roda dua Rp.1.000,- dan biaya parkir mobil Rp.2.000,-.

Suasana Candi Plosan saat menjelang Senja


Suasana Sekitar Candi Plaosan yang masih asri dan sejuk 






Indahnya pemandangan sawah dan pohon nan hijau di sekitar Candi Plaosan 

Friday, March 6, 2015

Siapa yang kenal dengan nama Candi ini ya??? Mesti banyak belum yang tahu... Ini adalah Candi Sojiwan. Candi Sojiwan adalah sebuah candi Buddhis yang terletak di desa Kebon Dalem Kidul, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sebuah ciri khas candi ini ialah adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Dari 20 relief ini, tinggal 19 relief yang sekarang masih ada.
Candi ini terletak kurang lebih 2 kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan, dari gerbang Taman Wisata Candi Prambanan meyeberang jalan raya Solo-Yogyakarta masuk ke jalan kecil menuju ke arah selatan, menyeberang rel kereta api, lalu pada perempatan pertama berbelok ke kiri (timur) sejauh beberapa ratus meter hingga candi terlihat di sisi selatan. Candi ini telah rampung dipugar pada tahun 2011.
Menurut beberapa prasasti yang sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta, candi Sojiwan kurang lebih dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi, kurang lebih pada kurun yang sama dengan candi Plaosan di dekatnya. Prasasti Rukam berangka tahun 829 Saka (907 M) yang kini disimpan di Museum Nasional, menyebutkan mengenai upacara peresmian perbaikan Desa Rukam oleh Nini Haji Rakryan Sanjiwana, sebelumnya desa ini hancur akibat letusan gunung berapi. Sebagai balasannya, warga Desa Rukam diberi kewajiban menjaga dan memelihara bangunan suci yang terletak di Limwung. Bangunan suci ini kemudian dikaitkan dengan candi Sojiwan, sementara tokoh pelindung yang disebutkan dalam prasasti ini: Nini Haji Rakryan Sanjiwana, disamakan dengan Ratu Pramodhawardhani. Candi dinamai berdasarkan Ratu ini, dan dipercaya dipersembahkan untuknya sebagai candi pedharmaan.
Candi ini bergaya arsitektur Jawa Tengah abad ke-9, terdiri atas tiga bagian, kaki atau dasar, tubuh candi, dan atap candi. Kompleks candi ini seluas 8.140 meter persegi, dengan bangunan utama berukuran 401,3 meter persegi dan tinggi 27 meter. Candi ini menghadap ke barat. Ditemukan arca dwarapala yang sudah rusak yang kini tersimpan di pos penjagaan di kompleks candi ini. Pada kaki candi ini terukir relief fabel kisah satwa Jataka mengelilingi kaki candi. Tangga candi di sisi timur diapit arca makara, hanya satu yang masih utuh, satu makara lainnya sudah hilang. Pada ujung atas tangga terdapat gawang pintu gerbang berukir kala.
Tubuh candi aslinya penuh berukir sulur-sulur, akan tetapi karena banyak batu yang hilang maka batu pengganti polos yang dipasang. Ruangan bilik dalam kini kosong, hanya terdapat relung dan singgasana yang aslinya mungkin menyimpan arca Buddha atau Boddhisatwa yang kini sudah hilang. satu arca Buddha yang telah rusak dan hilang kepalanya ditemukan di candi ini dan kini tersimpan di pos penjagaan candi ini. Atap candi bersusun tiga yang bertingkat-tingkat. Pada tingkatan-tingkatan ini terdapat jajaran stupa-stupa. Bagian puncak candi dimahkotai stupa yang besar.
Buat temen-temen semua yang ingin mengunjugi tempat ini jangan lupa menyiapkan kameranya, yang pasti nanti buat Potret-potret. Untuk biaya masuk ke Candi tersebut tidak dipungut biaya, yang penting ijin aja ama petugas jaga :D



Sekilas Candi Sojiwan di Video Bro and Sis semua.. Numpang Narsis

Pemandangan alam yang tersimpan di Kota Klaten begitu banyak dan memikat, salah satunya tempat wisata Curug, aroma udara yang segar yang jauh dari bising kota. Curug bayat ini sebenarnya memiliki nama sendiri yaitu Curug Indah Tegalrejo, Karena lokasi sebenarnya di desa Tegalrejo dan berada di jajaran pegunungan yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Klaten.  Curug Bayat sangat terkenal akan keindahan air terjun dan sugainya, begitu juga dengan pemandangan-pemandangan yang cantik lengkap beserja kesejukan udaranya.
Batu-batu kali yang menghiasi sungai nampak indah menemani aliran sungai yang terus mengalir, tidak heran jika banyak orang rela menyusuri sepanjang sungai demi mendapatkan pemandangan yang sangat indah.
Mungkin jika anda yang berasal dari jogja ingin berpergian ketempet wisata ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menempuhnya, untuk rutenya langsung saja dari arah Jalan Jogja-Solo menuju ke arah Klaten, kemudian sampai lampu merah Bendogantungan kemudian belok kanan ke arah Wedi atau Bayat. Melalui jalan tersebut nanti kita akan dituntut menuju Kecamatan Wedi dan melewati sebuah Pasar (Pasar Wedi), setelah melewati pasar Wedi nanti akan terlihat sebuah perempatan kecil, jika lurus nanti kita ke arah Kec. Gantiwarno tetapi jika kita belok kiri akan ke arah Bayat kemudian ikutin aja jalan tersebut, hingga sampai di Pasar Bayat. Nah...kalo sudah sampek Pasar Bayat Tanya saja sama orang yang di daerah sana, masalahnya tempatnya udah gak begitu jauh dari tempet itu (Kalo Naek Motor/Mobil loh....).
Untuk Biaya restribusi masuk kalo belum ada perubahan sebesar Rp. 1500, Kalo yang bawa Motor nanti cukup bayar parkir Rp. 2.000,. Kalo bawa mobil gimana ya??? Bisa sih...cuman jalannya kurang bagus, tapi tidak tahu kalo sekarang....
Kalo Berpergian ke Curug Bayat disarankan bawa temen yang banyak ya... biar lebih seru. Kalo yang mau berlibur ayo..jalan......






Tradisi Sebar Apem Yaqowiyu
Makam Ki Ageng Gribig menempati lahan dengan luas 70 m x 40 m (2.800 m2) dengan luas bangunan 15m x 12m (180m2). Letak geografis berjarak ± 9 Km dari kota Klaten. Makam (batu nisan) sendiri memiliki ukuran 2m, terbuat dari batu merah dan kayu. Fungsi utama makam tersebut diperuntukkan sebagai tempat ziarah yang dikunjungi biasanya pada hari malam Jumat legi dan Jumat kliwon. Biasanya orang yang datang berziarah memiliki tujuan memohon berkah dan keselamatan. Menggantung di atas cungkup terlihat beberapa baris tulisan dalam huruf Jawa di sebelah kiri, dan dalam aksara Latin di sebelah kanan. Bunyi kalimat itu adalah, Hambabar ubaling karso, hadedasar poncasila, hangudi luhuring bongso, hangayati kanti waspodo, handayani sentoso karto-raharjo. Arti terjemahan bebasnya, "Terurai keinginan diri, berdasar pada Pancasila, bercita-cita menjadi bangsa yang luhur, menghayati hidup dengan waspada, mendorong kemakmuran."

Tradisi Sebar Apem Yaqowiyu
Ki Ageng Gribig adalah cucu Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, putra dari R.M. Guntur atau Prabu Wasi Jolodoro. Ki Ageng Gribig merupakan salah satu ulama pada zaman Mataram yang menyebarkan Agama Islam khususnya di Jatinom.[3] Dia semasa hidupnya sempat naik haji ke Mekah, dan sepulang dari Mekah membawa oleh-oleh berupa kue dari Arab Saudi yang kemudian dibagikan kepada murid-muridnya. Karena banyaknya jumlah murid, kue tersebut tidak mencukupi, maka ki Ageng Gribig meminta Nyi Ageng Gribig, istrinya untuk membuatkan kue apem supaya kekurangan itu tercukupi. Kue inilah yang kemudian disebut dengan nama Apem Yaqowiyu, berasal dari doa Kyai Ageng Gribig sebagai penutup pengajian yang berbunyi: "Ya qowiyu Yaa Assis qowina wal muslimin, Yaa qowiyu warsugna wal muslimin”, yang artinya Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kami segenap kaum Muslimin. Apem Yaqowiyu tersebut sampai sekarang diperingati menjadi upacara adat di Jatinom yang diselenggarakan setiap tahun pada hari Jumat, sekitar tanggal 15 Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, berlokasi di dekat makam Ki Ageng Gribig.

Ki Ageng Gribig biasanya diidentikkan dengan tradisi rutin tahunan di Jatinom, yaitu acara sebaran kue apem. Apem merupakan kata serapan bahasa Arab "Affan", yang bermakna Ampunan.[5] Tujuan diadakannya acara sebaran kue apem itu agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.

Di samping area makam Ki Ageng Gribig terdapat beberapa tempat, di antaranya Masjid Agung Jatinom dan Sendang Palampeyan, Sendang Suran dan Guwo Belan, Masjid Tiban dan Oro-Oro Tarwiyah yaitu tempat di mana ki Ageng menanam tanah yang dibawanya dari Arofah, Mekah. Ki Ageng ketika mengumpulkan air untuk bekal wukuf di Arofah pada tanggal 8 bulan Dzulhijah menyebut tanah itu Yaumul Tarwiyah yang artinya bahwa pada waktu itu para jamaah haji mengumpulkan air sebanyak-banyaknya untuk bekal wukuf di Arofah.
Bulus Jimbung merupakan cerita dari di Desa Jimbung,Kalikotes, Kabupaten Klaten. 
Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan di daerah Jepara,bernama kerajaan Wirotho.keadaan Negara yang aman,tentram berkat kepemimpinan sorang ratu yang bergelar Sri ratu Woro Singo.
Sri Ratu menjalankan roda pemerintahan berdasarkan atas hukum yang tinggi nilainya,maka tak mustahil Negara tersebut masyhur di seluruh penjuru.`
Sri Ratu Woro Singo mempunyai seorang putra bernama pangeran Patahwan.Ia dikenal sebagai putra raja yang tampan.sejalan dengan pemerintahan raja tersebut,terdapat suatu kerajaan di daerah lain bernama Kalingga.Putri Kalingga yang bernama Wahdi ingin negaranya sejajar dengan Wirotho.Negara Kalingga terletak di daerah di daerah Purwodadi,Grobogan.
Kehendak Puteri Wahdi disampaikan kepada Ayahnda raja.mendengar keinginan putrinya sungguh besar hati.setelah disbanding bandingkan dengan kerajaan lain,ternyata banyak ketinggalan.sebetulnya Sang Raja menaruh hati pada Pangeran Patahwan.
Raja mengutus Patih Tambak Boyo meletakkan bokor mas berisi berlian permata di daerah Wirotho.Jika benda itu dalam beberapa hari masih utuh dan tidak berubah tempatnya,maka berita di daerah Wirotho tersebut memang benar,tetapi jika tidak,maka kabar tersebut bohong.
Suatu hari,Patih Tambak Boyo melaksanakan perintah Raja Kalingga membawa sebuah bokor kencana yang berisi emas permata ke sebuah jalan besar di kerajaan Wirotho.
Berita peristiwa adanya bokor yang ada di jalan itu walaupun ada bokor itu tidak ada yang bermaksud mengambilnya.
Dari jauh tampak olehnya sebuah bokor yang berkilauan karena terkena cahaya matahari.Beliau tidak bermaksud mengambilnya,tapi nasib buruk menimpanya,karena terlalu silau.kudanya terkejut dan berlari dengan cepat.kakinya menyentuh bokor tersebut,sehingga bokor tersebut bergeser dari tempatnya.
Pangeran Patahwan tidak dapat mengelak dan menyerahkan diri untuk dihukum oleh sang Raja.maka kakinya pun dipotong.semenjak kakinya dipotong,ia menjadi rajin berdoa.sampai akhirnya ia melanjutkan perjalanannya ke gunung Butak.ditempat itu sang pangeran merasakan ketenangan hidup,beliau selalu berdoa,agar kakinya sembuh.
Sampai akhirnya,kaki nya pun sembuh.maka ia kembali ke tempat istirahat di gunung Butak.berjalan kea rah barat,akhirnya dukuh itu bernama Jiwan.perjalanan ke selatan orang orang paras mukanya polos seperti peri.maka dukuh tersebut dinamakan peren,sampailah di dukuh yang tidak terlalu besar,kemudian singgah disitulah didirikan suatu kerajaan Sang Patahan menjadi Raja bergelar Prabu Jaka,kerajaan bernama Kerajaan Jimbun.
Kemashyuran Raja Jimbun kemudian terdengar oleh Putri Wahdi yang ingin menjadi permaisuri Raja Jimbun.Putri Keling ingin sekali mencarinya.
Perjalanan Putri Keling dikawal oleh beberapa prajurit.dan patih tambak Baya dan abdi yang setia yaitu Poleng dan Remeng.Sang putrid berpakaian mewah dengan perhiasan kalung gelang dari emas.
Sampai di Jimbun,ia mohon ijin untuk dapat masuk ke istana untuk menemui Prabu Jaka.ia seorang Wanita tak layak mengutarakan cintanya pada Raja.betapa bingung,prabu Jimbun yang masih muda,tampan,
Kedatangan Putri Keling diterima dengan hati senang dan terbuka oleh Sang Prabu.sampai akhirnya,putrid Keling pun bunuh diri di hadapan Sang Prabu Jimbun.namun sebelum bunuh diri ,semua perhiasan yang dipakai dilempar kea rah timur.akhirnya menjadi gunung kapur.(batu gamping)
Abdinya,poleng dan remeng marah.akhirnya bersabda”engkau berdua tidak tahu malu seperti bulus”karena sakit hatinya sang Prabu,kedua orang itu berubah menjadi bulus poleng dan remeng.mereka mengakui kesalahannya,mohon tempat tinggal dan makanan ketupat.raja menancapkan tongkatnya ke tanah,maka timbullah mata air,dan tongkat tersebut berubah menjadi pohon Randu alas.Raja Jimbun bersabda,agar kedua bulus bertempat tinggal di sendang itu,kelak dikemudian hari banyak orang yang mengunjungi dan memberinya makan.
Itulah sejarah dari adanya sendang Bulus Jimbung,tetapi pada bulan Maret tahun lalu,2009,bulus tersebut mati,sempat dibawa ke Rumah sakit Soeradji Tirtonegoro,tetapi sudah terlanjur mati,dan akhirnya di larung ke pantai parang kusumo.

Wednesday, February 25, 2015

Salah satu kolam renang yang terdapat di Pancingan 1000 Taman Air Janti


Berada dekat dengan Gunung Merapi, Kabupaten Klaten diberkahi dengan ratusan sumber air yang mengalirkan air sepanjang tahun. Tidak seluruh sumber air dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum. Wisata dan pertanian, termasuk budidaya ikan air tawar, adalah salah satu yang terbesar. Polanharjo dan Tulung menjadi dua kecamatan yang sangat terkenal dengan sumber air dan budidaya ikan air tawarnya. Dan lokasi yang dikenal sebagai surga ikan air tawar di Solo Raya adalah Desa Janti, Polanharjo. Kawasan dengan seribu lokasi pemancingan.

Jenis sajian khas ikan air tawar seperti ikan lele goreng atau bakar, nila, bawal, atau gurameh dipadu dengan sambal dan lalapan menjadi menu utama dari kawasan yang dikenal sebagai kawasan seribu pemancingan ini. Sebelum pengunjung menyantap hidangan, pengunjung dapat terlebih dahulu memancing ikan yang nantinya dimasak. Atau, pengunjung dapat langsung memesan makanan dan sementara menunggu pengunjung dapat berenang atau bermain air di wahana-wahana bermain air.

Kegiatan-kegiatan seperti di atas seakan menjadi ritual bagi setiap pengunjung yang berwisata ke lokasi pemancingan air tawar pemancingan Janti. Keramaian seperti itu akan semakin bertambah ketika memasuki bulan-bulan liburan sekolah. Berton-ton ikan dan beras dimasak setiap harinya. Melayani ribuan pengunjung yang biasa datang berkelompok.

Desa Janti masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Polanharjo. Kawasan ini adalah kawasan paling utara di Kabupaten Klaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Boyolali. Wilayah utara Kabupaten Klaten seperti Polanharjo dan Tulung adalah kawasan sumber air. Kawasan ini diberkahi dengan limpahan sumber mata air tawar yang kemudian dikelola sebagai sumber air minum, wisata, dan pertanian.

Air tawar di kawasan ini mengalir sepanjang tahun dan karena itu tidak mengagetkan jika kawasan Polanharjo kemudian berkembang menjadi kawasan budidaya ikan air tawar. Lokasi wisata pemancingan Janti adalah salah satu dari obyek wisata yang muncul karena adanya sumber air di kawasan itu.

Awal mula terbentuknya primadona obyek wisata Klaten itu adalah munculnya penduduk yang membudidayakan ikan air tawar. Usaha pemancingan menjadi pengembangan berikutnya dan kemudian terus berkembang sehingga menjadi lokasi pemancingan sekaligus lokasi kuliner ikan air tawar.

Taman air di pemancingan 1000 Janti
Dari satu dua lokasi usaha kini lokasi pemancingan dan restoran telah menjamur di kawasan itu. Yang unik dari kawasan ini adalah nama yang digunakan masing-masing tempat pemancingan sekaligus resto. Deretan angka menjadi nama masing-masing lokasi pemancingan. Seperti pemacingan 10, 100, 1000, hingga 1001. Tetapi angka itu bukan nomor urut melainkan nama saja.

Beberapa lokasi pemancingan di kawasan ini telah berkembang sangat maju untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Tidak hanya menyediakan kolam memancing sekaligus sajian masakan saja kini beberapa lokasi menyediakan arena permainan air. Seperti kolam renang hingga wahana bermain air.

Obyek wisata kuliner Klaten itu sangat cocok untuk lokasi wisata keluarga. Apalagi kawasan Janti juga berlokasi di wilayah strategis di antara Kabupaten Klaten dan Kota Solo dan tidak jauh dari jalan raya Solo – Jogja. Oleh karena itu meskipun berada di wilayah Kabupaten Klaten tetapi nama obyek wisata pemancingan Janti juga sangat dikenal di Kota Solo dan wilayah lain di Solo Raya.

Kawasan wisata Janti dapat ditempuh dengan mudah melalui jalur jalan raya Solo – Jogja. Dari arah Solo (Kartasura) maka jalur menuju Janti dapat ditemui di sebelah selatan lampu merah perempatan Dr. Oen Sawit. Dari arah Jogja maka jalur menuju Janti dapat ditemui di sebelah utara lampu merah pertigaan Pakis. Atau dari arah kota Klaten kawasan ini dapat ditempuh dari Gedung Olah Raga (GOR) Klaten lalu berbelok ke kiri menuju Karanganom kemudian menuju ke Polanharjo.

Untuk urusan harga kawasan wisata pemancingan Janti terkenal murah apalagi untuk keperluan wisata yang melibatkan beberapa kelompok wisatawan. Karena itu kawasan ini sangat cocok untuk tujuan wisata keluarga atau dijadikan sebagai lokasi pertemuan.

Tuesday, February 24, 2015

Asal kata Umbul Ponggok berasal dari Umbul yang berarti mata air, dan Ponggok yang merupakan nama Desa tempat Umbul ini berada. Umbul Ponggok terletak di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Umbul Ponggok adalah kolam pemandian terbesar di Klaten, dengan luas sekitar 6000 m2. Keberadaan Umbul Ponggok sudah ada sejak jaman ratusan tahun lalu, pada jaman dahulu Umbul Ponggok digunakan untuk pengairan perkebunan tebu, dan pada saat ini fungsi Umbul Ponggok adalah sebagai objek pemandian umum. Untuk masuk kearea Umbul Ponggok cukup murah, hanya dengan tiket masuk Rp. 3.000,- per orang dan karcis  parkir kendaraan Rp. 2.000,-.

Pemandangan Umbul Ponggok tampak luar terlihat seperti kolam renang pada umumnya, dengan satu kolam besar yang dikelilingi pohon-pohon besar disekitar area. Kelebihan Umbul Ponggok dibanding kolam renang adalah air dari Umbul ini berasal dari mata air yang tepat berada dibawah Umbul, oleh karena itu air di Umbul Ponggok sangat jernih dan bersih, sehingga dari atas umbul kita bisa melihat dasar dari Umbul Ponggok dengan sangat jelas. Kelebihan lain dari umbul ini adalah dasar dari Umbul Ponggok didominasi oleh bebatuan, kerikil, lumut dan pasir sehingga terlihat seperti didalam laut. Kelebihan yang terakhir dari Umbul Ponggok adalah kolam ini berisi ratusan ikan air tawar dengan ukuran sebesar jari kelingking hingga paha orang dewasa, ikan-ikan di umbul ini tidak berbahaya, justru mereka sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Tidak salah jika Umbul Ponggok adalah sumber mata air bernuansa dalam laut, dengan ratusan ikan, bebatuan besar, pasir didasar umbul, air yang sangat jernih, dan jika matahari sedang terik, sesekali cahaya matahari masuk ke air memperjelas keindahan dari Umbul Ponggok. Jika mengunjungi Umbul Ponggok disarankan membawa alat snorkeling ataupun kacamata renang, karena sangat disayangkan jika melewatkan keindahan dalam air dari Umbul Ponggok.

Suasana tampak bawah air


Museum Gula Jawa Tengah lebih banyak dikenal masyarakat sebagai Museum Gula Gondang Winangoen atau Museum Gula Klaten. Hal itu karena museum ini terletak di Pabrik Gula Gondang Winangoen milik PTPN IX. Lokasi Museum Gula Jawa Tengah terletak di Jalan Raya Jogja – Solo Km. 25, Klaten – Jawa Tengah. Karena berupa museum, maka di tempat ini banyak disimpan berbagai macam benda bersejarah yang ada hubungannya dengan industri gula dan perkembangannya. Diantara barang kuno kolesi dari Museum Gula Jawa Tengah adalah peralatan mesin giling yang tidak terpakai, lokomotif pengangkut tebu zaman dulu, maket pabrik gula, macam-macam jenis tebu dll. Selain museum, di kompleks Pabrik Gula Gondang Baru juga terdapat agrowisata yang menawarkan wisata keluarga yang menarik serta rest area dan kopi Banaran Cafe. Bagi anda yang sedang melintas di ruas jalan Yogya Solo dapat mampir disini sekedar melepas penat dan menikmati secangkir kopi atau teh.

Kereta Uap penangkut Tebu

Tempat pemandian anak-anak

Rest Area

Monday, February 23, 2015

Area taman sebelum masuk ke Candi Prambanan


Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Kompleks candi ini terletak di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten, [1] kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.[2] Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten.

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.[3] Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.[4]

Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari istilah teologi Hindu Para Brahman yang bermakna "Brahman Agung" yaitu Brahman atau realitas abadi tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan, yang kerap disamakan dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu. Pendapat lain menganggap Para Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama "Prambanan" berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat.

Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa Sansekerta; Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856 Masehi). Trimurti dimuliakan dalam kompleks candi ini dengan tiga candi utamanya memuliakan Brahma, Siwa, dan Wisnu. Akan tetapi Siwa Mahadewa yang menempati ruang utama di candi Siwa adalah dewa yang paling dimuliakan dalam kompleks candi ini.

Museum Prambanan
Di dalam kompleks taman purbakala candi Prambanan terdapat sebuah museum yang menyimpan berbagai temuan benda bersejarah purbakala. Museum ini terletak di sisi utara Candi Prambanan, antara candi Prambanan dan candi Lumbung. Museum ini dibangun dalam arsitektur tradisional Jawa, berupa rumah joglo. Koleksi yang tersimpan di museum ini adalah berbagai batu-batu candi dan berbagai arca yang ditemukan di sekitar lokasi candi Prambanan; misalnya arca lembu Nandi, resi Agastya, Siwa, Wishnu, Garuda, dan arca Durga Mahisasuramardini, termasuk pula batu Lingga Siwa, sebagai lambang kesuburan.

Replika harta karun emas temuan Wonoboyo yang terkenal itu, berupa mangkuk berukir Ramayana, gayung, tas, uang, dan perhiasan emas, juga dipamekan di museum ini. Temuan Wonoboyo yang asli kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Replika model arsitektur beberapa candi seperti Prambanan, Borobudur, dan Plaosan juga dipamerkan di museum ini. Museum ini dapat dimasuki secara gratis oleh pengunjung taman purbakala Prambanan karena tiket masuk taman wisata sudah termasuk museum ini. Pertunjukan audio visual mengenai candi Prambanan juga ditampilkan disini.

Candi lain di sekitar Prambanan
Dataran Kewu atau dataran Prambanan adalah dataran subur yang membentang antara lereng selatan kaki gunung Merapi di utara dan jajaran pegunungan kapur Sewu di selatan, dekat perbatasan Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Selain candi Prambanan, lembah dan dataran di sekitar Prambanan kaya akan peninggalan arkeologi candi-candi Buddha paling awal dalam sejarah Indonesia, serta candi-candi Hindu. Candi Prambanan dikelilingi candi-candi Buddha. Masih di dalam kompleks taman wisata purbakala, tak jauh di sebelah utara candi Prambanan terdapat reruntuhan candi Lumbung dan candi Bubrah. Lebih ke utara lagi terdapat candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Lebih jauh ke timur terdapat candi Plaosan. Di arah barat Prambanan terdapat candi Kalasan dan candi Sari. Sementara di arah selatan terdapat candi Sojiwan, Situs Ratu Baka yang terletak di atas perbukitan, serta candi Banyunibo, candi Barong, dan candi Ijo.

Dengan ditemukannya begitu banyak peninggalan bersejarah berupa candi-candi yang hanya berjarak beberapa ratus meter satu sama lain, menunjukkan bahwa kawasan di sekitar Prambanan pada zaman dahulu kala adalah kawasan penting. Kawasan yang memiliki nilai penting baik dalam hal keagamaan, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Diduga pusat kerajaan Medang Mataram terletak disuatu tempat di dataran ini. Kekayaan situs arkeologi, serta kecanggihan dan keindahan candi-candinya menjadikan Dataran Prambanan tak kalah dengan kawasan bersejarah terkenal lainnya di Asia Tenggara, seperti situs arkeologi kota purbakala Angkor, Bagan, dan Ayutthaya.

Itulah sedikit informasi mengenai Candi Prambanan, Semoga bisa berguna bagi kita semua.

Sunday, February 22, 2015

Deles Indah merupakan tempat wisata yang berada di lereng Gunung Merapi. sebelah timur kurang lebih 25 km dari Kota Klaten, Deles Indah terletak di Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang yang mempunyai ketinggian antara 800 - 1300 meter di atas permukaan laut. Dari atas objek Wisata Deles Indah dapat dilihat pemandangan alam pegunungan di sekitarnya. Pemandangan kota Klaten yang dihiasi dengan cerobong Asab pengolahan Gula Gondang baru bahkan Rowo Jombor dengan Jajaran Gunung kapurnya merupakan salahsatu pemandangan yang indah.
Sekitar Tempat Wisata Deles Indah terdapat Pesanggrahan Sunan Paku Buwono X, Makam Kyai Mloyopati Sendang Kali Reno, Kondisi tempat wisata yang tidak terawat menjadikan kawasan wisata ini menjadi sepi pengunjung dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah untuk ikut berperan dalam menjaga keindahan dan fasilitas untuk para pengunjung di tempat wisata Deles Indah.
Umbul Cokro Tulung - Pemandian dengan air sumber
Umbul Cokro merupakan tempat pemandian yang airnya berasal dari mata air sungai busur. Karena terletak dialiran mata air sungai busur, air yang terdapat pada kolam Umbul Cokro terbilang jernih dan jauh dari kata kotor. Selain air yang jernih tempat berenang di Umbul Cokro sendiri terdapat banyak pepohonan, sehingga membuat kawasan kolam terasa begitu sejuk, meski cuaca sangat panas. 
Untuk masuk di tempat wisata ini pengunjung hanya membayar sebesar 10.000, tiket ini sudah termasuk asuransi keselamatan pengunjung yang masuk di area Umbul Cokro. Selain mempunyai beberapa wahana bermain air dan tempat berenang, di Umbul Cokro juga terdapat flying fox yang bisa memacu adrenalin anda. Cukup membayar 15.000 rupiah saja untuk menikmati tegangnya meluncur dari ketinggian. Umbul Cokro juga menyediakan selter-selter untuk bersantai dan beristirahat ketika selesai berenang. Untuk pengunjung yang tidak mendapatkan tempat diselter-selter bisa duduk santai ditikar-tikar dekat kolam yang biasa disewakan oleh para pedagang di area wisata Umbul Cokro Tulung. Untuk sewa tikar pengunjung dikenakan biaya sebesar 5.000 per orang. 
Terkadang di minggu-minggu tertentu Umbul Cokro menyediakan live konser yang senantiasa menghibur para pengunjung yang datang. Umbul Cokro juga merupakan tempat favorit masyarakat ketika akan memasuki bulan puasa, menjelang bulan puasa masyarakat sekitar mempunyai tradisi tahunan yaitu padusan. Padusan adalah mandi dengan niat membersihkan/mensucikan diri sebelum bulan Ramadhan. Masyarakat akan berbondong-bondong menuju umbul atau sumber mata air untuk mandi. Mereka mensucikan diri dengan cara mandi keramas. Ketika padusan Umbul Cokro akan sangat ramai, untuk teman-teman yang ingin mengunjungi dan menikmati wisata di Umbul Cokro sebaiknya hindari hari-hari besar dan tradisi tahunan padusan. 
Bagi anda pencinta mancing  – memancing sekitar jogja, tentu tak asing dengan kata – kata rawa jombor. betul sekali, tempat yang satu ini begitu mendunia karena selain tempat yang sangat sejuk ditambah lagi dengan fasilitas pendukung yang di miliki, berikut sedikit info tentang rawa jombor.
Rawa Jombor berada di desa Krakitan,kecamatan Bayat,kabupaten Klaten,Jawa Tengah. Terletak di antara perbukitan kapur di desa Krakitan,Bayat,Jawa Tengah.
Di tengah desa Krakitan terdapat sebuah Rawa yang di kenal dengan dengan nama Rowo Jombor. Di samping Rawa di dirikan warung Apung, lokasi desa yang di apit oleh bukit-bukit Kapur, juga dapat menjadi sarana bagi mereka, pecinta panjat tebing,tracking.bagi anda yang senang memancing bisa memancing sekitar Rawa, dan menyediakan warung Apung.
Untuk menuju warung Apung anda harus menaiki perahu kecil yang sudah di siapkan warga secara gratis.sesudah sampai di warung Apung terdapat banyak hidangan kuliner seperti :ikan nila bakar,bawal bakar,lele bakar,udang air tawar, dan masih banyak lagi, dengan bumbu khas daerah sekitar. Saat musim liburan, di Rowo Jombor sangat ramai ada yang ingin makan ke warung Apung. Ada juga yang ingin melihat panorama alam yang sangat indah. Sebelum di bangun tanggul, luas Rawa Jombor sekitar 500 hektar sementara setelah di bangun tanggul dengan lebar 5 m maka luasnya menjadi 180 hektar. Setelah penjajahan Jepang berakhir Rowo Jombor, tetapi tetap di manfaatkan sebagai waduk untuk menampung air irigasi.
Fasilitas yang ada di Rawa Jombor seperti :out bond,pacuan kuda,gestrek,panjat tebing, dan jet sky. Fasilitas yang akan di bangun yaitu :penataan bukit sidoguro,pemasangan wahana flying fox,pembangunan kios souvenir dan revitalisasi saluran irigasi bawah tanah peninggalan zaman Belanda. Selain itu, pembangunan Sport Center di utara Rawa juga di harapkan semakin menarik. Minat wisatawan. Sebanyak 12 fasilitas olahraga siap di bangun di arena Sport Center  itu adalah Basket,Voly,Renang,Tennis Indoor,Panjat Dinding,Pacuan Kuda,Road Race,Drag Race,Moto Cross,Voly Pantai,Panahan, dan Tembak.
Sekarang untuk memasuki kawasan wisata warung Apung Rawa Jombor di kenakan tiket masuk sebesar Rp 4.000/orang. Dan pengunjung roda dua yang tidak memakai helm tidak membayar tiket/gratis.